May 11, 2006

samaners, angklungers, Indonesianers...

Hari ini, secara tiba2 saya diajak untuk bermain angklung di sebuah sekolah di Indoroopilly, Brisbane. Saya sedikit kaget, karena saya sudah lama sekali tidak bermain angklung. Tapi, saya pikir karena para angklungers kebetulan sedang kekurangan orang dan acaranya hanya scala sekolah dan tidak besar, maka saya mengiyakan ajakan itu.

Saya tidak sempat latihan angklung, langsung manggung. Dan saya manggung di hadapan murid2 sekolah itu. Sekolah itu sendiri mempunyai banyak murid, dari SD sampai SMA kali yah. Tadi itu acara multi-cultural day. Banyak stand makanan dari aneka negara, dan banyak yang memakai pakaian kebangsaan negara2 lain. Seperti kimono, pakaian korea, dan bahkan batik (kebetulan anak Indonesia ada yang sekolah disana)!

Ketika manggung, banyak orang asing yang tertarik dengan penampilan kita. Dan setelah kita selesai manggung, kita disediakan sebuah ruangan untuk mengajar anak2 yang tertarik untuk bermain angklung. Awalnya sih kita kira tidak akan ada yang datang, tapi ternyata dari anak kecil sampai nenek2 banyak yang tertarik bermain angklung. Bahkan ada yang betah dan tidak mau keluar ruangan sampai berakhirnya jadwal kita. Antusiasme mereka besar sekali. Bagi mereka, alat musik angklung itu adalah sesuatu yang baru. Karena mereka antusias, kita sebagai angklungers (sebutan untuk anak2 uqisa yang main angklung) juga ikutan antusias, antusias mengajarkan walau perut kelaparan. Hahaha..

Hidup angklungers deh pokoknya! Eh, hidup samaners juga deh.

Nah, kalau samaners itu sebutan untuk anak2 pecinta saman. Tidak hanya penari, tapi juga offical nya, contohnya saya. Saya tidak menari saman, tapi saya selalu ada pada saat teman2 saya menari saman. Karena saya selalu ada dalam setiap penampilan saman housemate saya, dan bahkan terkadang pada saat latihan saya juga ada, saya sering dibilang sebagai komentator, menejer tidak resmi, dan offical saman. Hahaha..

Kemarin ini saman manggung di Southbank. Acara Budha Festival, acara skala besar karena orang2 Brisbane pada datang kesana. Latihannya sudah dari seminggu sebelumnya. Dan saya hobby sekali mengomentari latihan mereka. Pokoknya gerakannya diulang terus sampai saya bilang bagus. Sedikit tidak enak, tapi itu kan permintaan mereka. Bahkan saya sudah hafal kesalahan mereka dimana, gerakan individual dan kekuarangan mereka. Dan saya juga tahu kapan gerakan mereka bagus. Makanya pada saat gladiresik sebelum tampil, saya langsung memberikan aba2 dimana posisi yang bagus untuk mereka. Dan hasilnya: lumayanlah! Overall bagus kok. Mereka banyak didatangi orang2 setelah selesai manggung.

Oh iya, satu lagi tugas saya yang khas sebagai samaners. Mengambil video mereka! Penting itu. Supaya mereka bisa tahu kesalahan mereka dimana. Evaluasi kecil2an lah. Dan tidak lupa, saya bertugas untuk memegang hp dan dompet mereka. Waduh kalau itu hilang, bisa mati saya!

Anyway, saya senang sekali kalau ada acara mangung2 seperti itu. Rasanya bangga sekali menjadi orang Indonesia. Padahal kalau saya di Jakarta, belum tentu saya mau ikut acara seperti ini. Mana mau saya main angklung atau nonton saman. Ternyata, tinggal di luar negeri membuat rasa nasionalisme kita bertambah yah. Bangga loh karena kita punya budaya yang beraneka ragam. Hehehe.. Trus ya, lucu deh.. Pada saat setelah manggung saman, banyak orang2 yang tidak berwajah Indonesia, tiba2 menghampiri kita. "Orang Indonesia yah? Saya juga dari Jakarta kok." Dan mereka bangga sekali menonton saman.

Hmm.. Masa sih untuk meningkatkan rasa nasionalisme perlu ke luar negeri dulu?? Hehehe..

No comments: